KONEKSI ANTAR MATERI - Modul 3.1

 


PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN



Assalamuallaikum wr wb.. 

Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Donna Violita, M.Pd, saya mengajar di instansi SMP Negeri 39 Kota Bekasi. Saya adalah calon Guru penggerak Angkatan 11 tahun 2024. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Namun sebelum saya menjelaskan lebih dalam, mari kita pahami kutipan menurut Bob Talbert berikut ini : 

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan tidak hanya sebatas proses mengajar dan belajar di dalam kelas, tetapi juga mencakup segala aspek pembentukan karakter, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang membentuk manusia menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan jauh lebih mengajarkan akan hal baik apa yang akan diperoleh dari yang sudah dilakukan.
Pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses sistematis untuk mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan norma kepada generasi selanjutnya. Dalam hal ini, pendidikan berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang dan membantu mereka memahami dunia di sekitarnya.

Sudah seharusnya kita sebagai pendidik harus mampu memberikan segala upaya terbaik bagi peserta didik, setiap keputusan yang kita ambil harus berpihak kepada murid dengan dilandasi nilai-nilai kebajikan. Pendidik berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan keteladanan, dimana dalam prosesnya kita menuntun peserta didik ke arah yang lebih baik. 

Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut ini,

“ Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku  etis.” (Georg Wilhelm Friedrich Hegel).

Berdasarkan kutipan di atas pendidikan adalah seni. Di maksud seni karena praktek pendidikan melibatkan perasaan dan nilai yang sebenarnya di luar daerah ilmu (ilmu yang berparadigma positivisme). Selain itu, pendidik harus inovatif dan kreatif, skenario atau persiapan mengajar dijadikan pengingat, yang lebih penting adalah improvisasi dan bagaimana membuat proses mengajar jadi menyenangkan untuk peserta didik. Pendidik harus memperhatikan minat, perhatian, dan hasrat peserta didik. Pengakuan pendidikan sebagai seni, tidak harus menggoyahkan pengakuan bahwa pendidikan dapat dipelajari secara ilmiah. Idealnya, pendidikan adalah aplikasi ilmu (ilmu pendidikan) tetapi sekaligus pula adalah seni. Manfaat Pendidikan Seni untuk mengembangkan Perasaan agar keseimbangan jiwa terjaga dan juga memahami apa yang dirasakan oleh peserta didik. Konsep dalam pendidikan seni yaitu: 

1. Seni membantu pelatihan daya pikir 

2. Seni membantu daya kepekaan 

3. Pelatihan produksi seni membangkitkan karsa peserta didik

"Education is the transmission of knowledge, skills, and character traits and manifests in various forms. Formal education occurs within a structured institutional framework, such as public schools, following a curriculum." Wikipedia

Berdasarkan kutipan di atas, Pendidikan adalah proses mentransfer pengetahuan, kemampuan, serta berbagai macam bentuk dari proses pembelajaran tersebut. Pendidikan formal lebih menekankan pembelajaran yang sudah terstruktur seperti pembelajaran di sekolah umum yang sudah mengikuti kurikulum yang di terapkan.

Setelah saya mencoba memahami tiga kutipan tersebut, berikut ini adalah jawaban dari soal modul 3.1 koneksi antar materi Pendidikan guru penggerak Pengambilan keputusan

  1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Ki Hajar Dewantara dengan filosofi triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang dicetuskan oleh KHD dan sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya.  Semboyan tersebut memiliki makna mendalam yang dapat kita jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan untuk dapat selalu berpihak kepada peserta didik untuk menjadikan generasi cerdas, berkarakter, berakhlak mulia sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Hal tersebut dapat kita terapkan selama proses pembelajaran di sekolah. Tidak hanya terkait kurikulum namun memaparkan nilai -nilai kebajikan yang nantinya dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan untuk mendapatkan solusi yang terbaik. 
  2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? Proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan , konsekuensi yang akan terjadi, dan mengurangi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi ataupun resiko dari keputusan yang di ambil karena setiap keputusan yang di ambil harus berdasarkan keputusan yang telah di diskusikan bersama meskipun suatu keputusan tidak dapat mengakomodir seluruh kepentingan, Namun tujuan utama pengambilan selalu pada kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.
  3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Pendampingan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) oleh  fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran sangat efektif membentu pemahaman saya, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang baik memberi gambaran utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan-keputusan dengan teknik coaching yang berlandaskan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching dengan kesetaraan tidak menggurui  akan menimbulkan rasa nyaman  sehingga coach mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Coachee dapat menyampaikan hambatan – hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai karena coach mampu menjadi penedengar yang baik.  Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi kondusif dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik. Keterampilan coaching juga dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Dengan coaching guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan seluruh siswanya dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah sesuai dengan kodrat zaman dan kodrat alam.
  4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. “BAPER”dapat mewarnai setiap keputusan yang diambil, namun pendidik menyadari setiap keputusan wajib berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan  serta regulasi yang ada dan melakukan 9 langkah pengambilan keputusan. Sehingga dengan kedua dasar tersebut kita dapat membedakan dilemma etika atau bujukan moral. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring murid menciptakan terobosan yang inifatif dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Sembilan keputusan tersebut yaitu:
  • Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  • Menentukan siapa saja yang terlibat
  • Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
  • Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
  • Pengujian paradigma benar lawan benar
  • Prinsip Pengambilan Keputusan
  • Investigasi Opsi Trilemma
  • Buat Keputusan
  • Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan
  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Mengamati studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik. . Tentu saja rasa empati dan pengelolaan diri dengan kesadaran penuh (Mindfulness) akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih intuisi dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat mengetahui perbedaan antara dilema etika maupun bujukan moral. Keputusan yang diambil tepat dan menjadi keputusan yang dapat memfasilitasi kebutuhan peserta didik maupun warga sekolah yang lain.
  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Keputusan yang kita ambil akan berdampak pada imlementasi pembelajaran dan mempengaruhi situasi di sekolah. Setiap keputusan yang kita ambil harus tepat dan bijak berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma. Dengan landasan tersebut kita dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya. Terwujudnya murid yang Bahagia, cerdas dan berkarakter.
  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? Pengambilan keputusan berlandaskan tiga prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai apakah Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Semua tergantung situasi dan kondisi yang ada.  Namun setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, hal ini menjadi salah satu tantangan. Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus – kasus dilemma etika adalah tidak dapat memuaskan semua pihak sehingga ini merupakan satu ganjalan bagi saya. Namun 9 langkah pengambilan keputusan yang saya coba lakukan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.
  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan peserta didik kita adalah merdeka belajar. Merdeka dalam belajar artinya peserta didik memiliki kebebasan untuk berpikir dan berekspresi. Jadi, bukan berarti siswa tidak perlu belajar lagi, namun diharapkan murid-murid akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab pada setiap proses pembelajaran yang mereka pilih. Dengan kata lain semua pengambilan keputusan harus berpihak pada peserta didik, dan guru hanya memfasilitasi kebutuhan mereka. Kemudian semakin meningkatkan bakat dan minat yang sudah ada pada peserta didik. Guru hanya memberi gambaran, fasilitas dan mengkondisikan peserta didik agar memilih secara bertanggungjawab dan sesuai bakat, minat serta kebutuhan. Proses pembelajaran di kelas, guru menyampaikan pembelajaran berdiferensiasi  hal ini merupakan satu contoh keputusan yang berpihak pada peserta didik. Menerapkan secara eksplisit maupun implisit KSE adalah  wujud nyata untuk memfasilitasi dan mengasah keterampilan social smosional murid-murid kita.
  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? Setiap pengambilan keputusan pastinya akan membawa dampak baik dalam waktu dekat maupun rentang waktu yang jauh bagi peserta didik. Peserta didik pastinya merekam dalam memori dan akan menjadi role model bagaimana kelak peserta didik berpikir dan berpijak di kemudian hari. Bagaimana mereka mengambil keputusan di masyarakat ketika terjun dalam dunia yang sebenarnya. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, benar dan bijak melalui pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan pengambilan keputusan kita benar dan teruji sehingga tidak membuat peserta didik salah dalam memahaminya.
  2. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Kesimpulan yang dapat saya ambil dari pembelajaran materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau kemampuan yang harus dimiiki oleh guru dan berlandaskan kepada filosofi KHD yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Secara sadar keputusan itu akan mewarnai pola pikir dan karakter bagi murid-murid. Sekolah sebagai Lembaga yang melakukan proses transfer ilmu dan karakter selalu menuntun murid-murid dan memfasilitasi kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran. Ketika pengambilan keputusan tentu saja banyak pengambilan keputusan yang mewarnai kebijakan-kebijakan sekolah. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan bijak, dengan mengedepankan regulasi kesepakatan kelas, keyakinan kelas untuk mewujudkan karakter dan budaya positif dalam kelas. Pengambilan keputusan harus bertujuan mewujudkan budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Suasana tersebut akan berdampak  meningkatkan kompetensi baik untuk pendidik maupun peserta didik. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan peserta didiknya. Menjadi peserta didik yang cerdas , berkarakter, dan membentuk profil pelajar Pancasila sesuai harapan. Dalam proses menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan keputusan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada peserta didik demi terwujudnya merdeka belajar. Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk merdeka belajar, karena dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan peserta didik terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. Dengan berdiferensiasi maka peserta didik dapat menyesuaikan pengerjaan tugasnya sesuai dengan minat yang mereka miliki. Pembelajaran kokulikuler juga salah satu implementasi untuk mewujudkan karakter profil pelajar Pancasila. Berbagai tema dan dimensi yang disiapkan memungkinkan peserta didik terbiasa dengan  nilai-nilai positif yang di lakukan dan pada akhirnya menjadi pembiasaan karena secara berkelanjutan terus di laksanakan.
  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? Yang saya pahami dari konsep-konsep modul ini yaitu Ada 4 paradigma dalam pengambilan keputusan:
  • Individu lawan masyarakat
  • kebenaran lawan kesetiaan
  • keadilan VS belas kasihan
  • Jangka Pendek VS jangka panjang

    Ada 3 prinsip mengambil keputusan

    • berfikir berbasis akhir
    • berfikir berbasi aturan
    • berfikir berbasi  rasa peduli

      Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan

      • Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan
      • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
      • Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
      • Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)
      • Pengujian paradigma benar atau salah
      • Prinsip pengambilan keputusan
      • Investigasi tri lema
      • Buat keputusan
      • meninjau kembali keputusan dan refleksikan
      1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dalam situasi dilema etika. Namun tidak mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan. Keputusan yang saya ambil biasanya hanya dari dua hal yaitu sesuai dengan regulasi atau peraturan yang ada dan tidak merugikan orang lain. Dalam prosesnya saya tidak melakukan uji benar vs benar, namun setelah mempelajari modul ini saya jadi mengetahui langkah - langkah dan bagaimana harus bersikap dalam mengambil sebuah keputusan. Melalui modul ini saya jadi mempelajari pengambilan keputusan 5 akurat.
      1. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Banyak sekali ilmu yang saya perileh dari model 3.1 ini. saya sangat berharap ilmu yang sudah saya pelajari kelak akan bermanfaat dan berguna bagi diri saya maupun orang lain. Sebelum mempelajari modul ini saya berpikir bahwa pengambilan keputusan hanya berdasarkan peraturan yang sudah tertera. Ternyata banyak hal yang menjadi dasar, ada 4 paradigma dilema etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Serta konsep pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga saya lebih yakin dengan apa yang sudah saya tetapkan sebagai satu keputusan. Saya berencana akan mengimplementasikan dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam ikut serta pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi yang saya ikuti.  Saya berharap pengambilan keputusan yang saya lakukan akan selalu berpihak pada murid.
      1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Bagi saya mempelajari modul 3.1 sangat bermakna karena saya jadi lebih memahami dalam pengambilan suatu keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran sekaligus sebagai warga tentunya banyak sekali keputusan keputusan yang dikeluarkan, dimana keputusan tersebut sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Sebagai pemimpin pembelajaran maka harus memiliki keterampilan pengambilan keputusan untuk dapat mewujudkan itu semua. Keputusan yang bernilai kebajikan dan mampu mengimplementasikan 9 langkah pengambilan keputusan, sesuai 4 paradigma  3 prinsip penyelesaian dilema  serta  tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule. Cukup sekian  koneksi antar materi yang saya paparkan, dan saya menyadari betul masih kurangnya pengetahuan yang saya peroleh. Maka dari itu setiap masukan dan informasi yang diberikan sangat berarti bagi saya untuk mendapatkan ilmu yang lebih bermanfaat lagi. Semangat selalu untuk guru - guru Indonesia.

      Comments

      Post a Comment